Cara Download

Pilih File yang akan di Download, dan Anda akan diarahkan ke adf.ly kemudian tunggu 5 detik dan tekan tombol SKIP AD yang berada di sebelah kanan atas monitor anda
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya Kuliner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2009

Melihat Prosesi Perang Bangkat dalam Pernikahan Suku Using

Lamaran Unik yang Sarat Simbol Kelanggengan


LAMARAN: Upacara perang bangkat di Singojuruh, Banyuwangi.

Masyarakat asli Banyuwangi punya cara unik dalam melangsungkan pernikahan. Mereka selalu melakukan tradisi perang bangkat.

“Soraaak…, ayo maju!” tegas ketua rombongan mempelai pria saat berjalan mendekati rumah pengantin putri.
Dengan membawa berbagai kebutuhan rumah tangga, iring-iringan rombongan mempelai pria itu terus bergerak. Setiba di dekat rumah pengantin putri, mereka dihadang oleh jambangan. Terpasang selembar kain jarit yang diibaratkan sebagai gerbang.Dari dalam gerbang, salah satu keluarga pengantin putri yang jadi penjaga gerbang menanyakan keperluan datangnya rombongan tidak dikenal itu. Begitu dijawab bahwa maksud kedatangannya adalah melamar sang putri, penjaga gerbang itu langsung marah dan menolak mereka. “Kami akan tetap melamar sang putri,” tegas ketua rombongan pengantin putra.
Penjaga gerbang dan ketua rombongan pengantin putri, sempat adu mulut. Hingga akhirnya, keduanya bertarung (perang) dengan menggunakan berbagai senjata. Senjatanya bukan senjata yang lazim digunakan untuk berperang. Mereka menggunakan senjata alat dapur seperti irus, siwur, kelapa, telur dan bahkan ayam hidup. Dalam perang ini, pihak penjaga gerbang ternyata kalah. “Kalau begitu, lamaran saya terima. Tapi, kami minta syarat,” pinta penjaga gerbang itu.
Sebagai syarat, ketua rombongan lalu menyerahkan berbagai ‘upeti’ seperti kasur dan bantal, kembang panca warna, wanci kinangan, wanci kendi, dan sebagainya. “Semua ini, kami serahkan untuk sang putri sebagai syarat,” cetus ketua rombongan mempelai pria.
Itulah sekilas pelaksanaan perang bangkat, yang jadi tradisi khusus dalam suku Using pada pernikahan. Dalam upacara itu, peran ketua rombongan dan penjaga gerbang dilakukan oleh sesepuh Suku Using yang dianggap memiliki kelebihan tertentu. “Perang bangkat ini tradisi yang sudah berjalan turun temurun,” cetus Sanawi, sesepuh Suku Using yang kali ini berperan menjadi ketua rombongan pengantin laki-laki.
Pernikahan yang diharuskan melaksanakan tradisi perang bangkat ini, ternyata hanya berlangsung dalam kondisi tertentu saja. Bila kedua pasangan pengantin itu sama-sama anak sulung atau bungsu, maka perang bangkat harus dilaksanakan. “Atau sulung dapat anak bungsu, ini juga harus dilakukan perang bangkat,” sebut sesepuh adat yang tinggal di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Rogojampi itu.
Upacara tradisi perang bangkat ini, semuanya berupa simbol-simbol. Alat perang berupa irus, siwur, kelapa, dan telur, semuanya hanya menjadi simbol agar pasangan pengantin ini bisa langgeng. “Irus maksudnya pasangan pengantin harus terus sampai kakek-nenek hingga meninggal, sedang siwur itu maksudnya kalau ngomong jangan ngawur,” ungkap tokoh masyarakat lainnya Sapuan, yang dalam upacara ini bertindak sebagai penjaga gerbang dalam upacara tersebut.
Sanawi dan Sapuan mengaku tidak tahu, sejak kapan upacara tersebut mulai dilaksanakan. Yang jelas, ini sudah menjadi tradisi dan berlangsung turun-temurun. “Perang bangkat ini ibaratnya seperti tolak balak. Kalau tidak melakukan, biasanya pasangan pengantin akan banyak godaan dan rintangan,” sebut Sapuan.
Dalam perang bakat ini, diakhiri dengan dipertemukan pasangan pengantin. Keduanya, diminta untuk bersalaman sambil didoakan oleh sesepuh suku Using. Semua itu, mirip dengan prosesi ijab dan kabul dalam sebuah pernikahan. “Tapi tradisi ini bukan ijab dan kabul lho, ini hanya upacara tradisi saja,” terang Sanawi. (bay)

FOTO: AGUS BAIHAQI/Radar Banyuwangi


Sumber

Jaranan Makan Beling dan Beras Kuning

KESURUPAN : Pawang menyembuhkan pemain jaranan yang kesurupan.
BANYUWANGI – Seni tradisional jaranan Banyuwangi masih diminati warga. Ribuan warga tumplek blek di kawasan Jalan Andalas Banyuwangi kemarin (8/2). Mereka menyaksikan atraksi seni jaranan campur sari Sidodadi dari Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi.
Para penonton rela berdesakan di bawah terik sinar matahari, semi untuk menyaksikan aksi para pemain jaranan. Awalnya, para pemain masih berkostum lengkap. Setelah kesurupan, aksi mereka semakin atraktif. Ada yang makan beling, bunga, kemenyan dan beras kuning.
Para pemain jaranan itu sebagian besar merupakan pekerja bangunan. Mereka tetap mempertahankan seni tradisional yang sudah puluhan tahun bertahan di Bumi Blambangan ini. Karena keterbatasan personel, mereka juga rela melakukan make up wajah sendiri sebelum tampil. ’’Kalau bukan kita, siapa lagi,’’ kata Agus, seorang pemain jaranan. (lla/bay)
FOTO: ALDILA/Radar Banyuwangi


Melihat Peninggalan Situs Macan Putih di Kecamatan Kabat

ASLI : Beberapa peninggalan sisa Kerajaan Macan Putih yang masih tersisa di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

Peninggalan Kerajaan Macan Putih ternyata masih tersisa di Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Prihatin banyaknya situs peninggalan tersebut, para siswa SMAN 1 Giri melakukan penelitian aset berharga tersebut.
Mencari lokasi Desa Macan Putih yang terletak di Kecamatan Kabat Banyuwangi, tidak terlalu sulit. Lokasinya mudah dicari, malahan dulu ada simbol patung macan berwarna putih di jembatan Tambong yang kini sudah tidak ada lagi. Macan putih memang nama yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Banyuwangi. Selain peninggalannya yang sangat banyak dan cukup dikenal, lokasi itu juga dulu diduga merupakan pusat Kerajaan Blambangan.
Bahkan tahun 2007 lalu, diresmikan monumen perjuangan Prabu Tawang Alun. Tempat bersejarah di sekitar lokasi itu juga ikut diresmikan, seperti pintu gerbang di Desa Laban dan pembangunan musala yang merupakan tempat muksa sang macan putih di Dusun Pelecutan. Harimau putih ini dikisahkan merupakan sosok pendamping setia sang Prbau Tawang Alun.
Sementara itu, menggunakan kendaraan roda dua, rombongan siswa SMAN 1 Giri bersama dengan Forum Peduli Sejarah Tawangalun melakukan penelitian di daerah tersebut. Meski dengan peralatan seadanya, mereka tetap berusaha mencari sisa-sisa kerajaan Blambangan di masa Prabu Tawang Alun II.
Waktu sehari yang ditentukan oleh guru sejarah, tidak menyurutkan mereka untuk menggali sisa-sisa peninggalan kerajaan tersebut. Sebanyak 39 siswa itu tidak menyia-nyiakan metode pembelajaran outdoor itu. Selama sehari di sana, mereka rela belepotan tanah, mencangkul hingga mengeruk tanah untuk menemukan sisa peninggalan sejarah. Hasil kerja keras mereka ternyata membuahkan hasil. Mereka menemukan benda yang mirip patung yang terbuat dari batu putih, mengandung kapur atau batu padat dari lava dan tanah liat.
Selain itu, mereka juga menemukan batu bata yang memiliki tebal 10 centimeter, lebar 19 centimeter dan panjang 45 centimeter. Tak ayal, begitu menemukan peninggalan –peninggalan tersebut dengan cekatan mereka langsung mengambil kamera dan memotret. Tidak hanya itu, para siswi langsung mengambil buku dan pena. ‘’Nanti kita akan membuat laporan dan diserahkan kepada sekolah. Ini sebagai bukti bahwa pelajar tidak hanya sekadar belajar. Tetapi bagaimana ikut melestarikan sejarah,’’ kata Rudi, salah satu siswa SMAN 1 Giri.
Guru sejarah SMAN 1 Giri, Suhalik mengatakan, sebagai warga Banyuwangi, kita prihatin dengan semakin banyaknya situs istana Macan Putih. Banyak juga peninggalan yang sangat berharga habis karena dicuri. Selama ini, pemerintah kurang peduli terhadap pelestarian situs-situs kebesaran kejayaan Blambangan.
Tidak hanya pemerintah, yang dianggap kurang peduli. Suhalik mengakui, rendahnya kesadaran masyarakat sekitar terhadap arti penting situs sejarah untuk mencari identitas dan kebanggaan daerah. Tahun 1971, terjadi paceklik di lokasi tersebut selama satu tahun gagal panen akibat serangan hama wereng. Sehingga, masyarakat Macan Putih menjadi kelaparan. Mengatasi rasa kelaparan, akhirnya masyarakat menjarah puing-puing kekayaan bekas situs Macan Putih banyak.
Mereka juga menumbuk batu bata menjadi pengganti semen. Namun tidak untuk dimakan, melainkan untuk dijual. Karena harganya sangat menggiurkan. ‘’Bahkan oknum yang tidak bertanggung jawab juga turut andil. Mereka menjualnya Rp 100 ribu per biji batu bata itu,’’ jelasnya.
Suhalik berharap, temuan ini bisa ditindaklanjuti oleh instansi yang terkait terutama lembaga Arkeologi Nasional untuk mengadakan rekontruksi keberadaan sejarah Macan Putih. Selain itu, pemkab diharapkan bisa membebaskan tanah milik rakyat dengan ganti untung yang tidak merugikan masyarakat. ‘’Setelah ini, bisa digunakan untuk pusat informasi untuk kegiatan ilmiah dan pariwisata karena hal itu sangat penting bagi generasi muda,’’ pungkasnya.
Ketua Forum Peduli Sejarah Tawangalun, Fatah Yasin Noor mengaku bangga dengan kepedulian pelajar Banyuwangi kepada situs peninggalan sejarah di Bumi Blambangan. Saat ini, semua orang sibuk dengan kepentingan masing-masing. Sehingga peninggalan sejarah yang sangat berharga, mereka sisihkan. ’’Kalau tidak kita-kita lagi, siapa yang nanti akan menuliskan sejarah tempat tinggal kita,’’ pungkasnya. (bay)

FOTO: SMAN 1 Giri For Radar Banyuwangi


Sumber

Pindang Koyong

LareOsing, Selain memiki banyak kekayaan alam, seni dan budaya, Banyuwangi juga memiliki makanan khas, yang cukup beragam.
Salah satunya adalah Pindang Koyong.
Yahh, sesuai dengan namanya, Pindang Koyong adalah masakan berbahan utama ikan segar, biasanya jenis Lemuru atau tongkol yang dimasak berkuah dan punya taste agak asam, gurih juga pedas.
Namun masakan yang satu ini dijamin akan bisa memberikan sensasi rasa yang unik dan berbeda.
Kalau anda penasaran, tidak harus pergi ke Banyuwangi. Karena kami akan memberikan Resep pembuatan untuk anda coba sendiri di rumah.
Bumbu yang diperlukan :
1. merica
2. bawang putih & bawang merah
3. kunyit
4. Kemiri
5. Cabe
6. jahe
7. laos
8. sere
9. godong jeruk
10. belimbing wuluh
11. Ikan Lemuru/ Tongkol
Cara memasak :
Haluskan merica, bawang putih, bawang merah, kunyit, dan cabe. Kemudian tumis sampai harum.
Rebus ikan (bisa ikan apa saja lebih nikmat ikan lemuru/tongkol) bersama jahe, laos, dan sere ( yang sudah ditumbuk sebelumnya), jangan lupa masukkan juga daun jeruk.
Setelah mendidih masukkan bumbu yang sudah ditumis tadi bersama belimbing wuluh.Tunggu beberapa saat, dan Pindang Koyong siap disajikan.
Biasanya Pindang Koyong lebih pas jika dinikmati pada siang hari…


Sego Tempong

LareOsing, Sego Tempong atau Nasi Tempong ini adalah salah satu makanan Khas Kabupaten Banyuwangi, Nasi dengan sambal khas ini, disantap dengan lauk pada umumnya, seperti ikan laut segar goreng, tempe dan tahu goreng, bisa juga ayam goreng dan empal. Namun yang paling khusus adalah sambalnya, karena diracik secara khusus. Mulai bahan tomat (ranti-bhs Using), serta terasi yang digunakan. Bahkan saking pedasnya, orang yang habis menyatap Nasi Sambal ini seperti di-Tempong (Tampar-bhs Indonesia). Nah, dari sinilah muncul istilah “Nasi Tempong” yang membuat penyuka makanan pedas menjadi ketagihan.Nasi ini sangat nikmat di sajikan dalam keada an malam hari sambil melirik keindahan kota banyuwangi. Warung Nasi kepunya an mbak Sum yang berada di samping Selatan Roxi ini sangat ramai sekali mulai sore hingga malam hari, tak pelak jika sering pelanggannya kehabisan menu hidangan jika datangnay sudah malam.

Penjual “Sego Tempong” di Banyuwangi, selalu menggunakan “Ranti”, tomat yang bentuk kulitnya bergelombang. Sebagian orang orang juga menyebit “Melinjan”, ada juga yang menyebur “Blondotan“. Dalam bahasa latin Solanum lycopersicum, tetapi bentuknya tidak bulat penuh. Sagak gepeng, kulitnya bergelombang seperti kulitnya “waluh” (bhs.Jawa). Orang Banyuwangi menyebut ranti ini sebagai bagian dari timat sayur, sedangkan tomat pada umumnya yang kulitnya halus sebagai tomat buah. Bedanya dengan tomat pada umumnya, ranti ini tidak “lengur” (bhs. Jawa) kalau dibikin sambal tanpa dimasak. Bijinya ranti ini juga lebih banyak, dibanding tomat jenis lain. Namun apabila akan digunakan sambal, biasanya bijinya dibersihkan, hanya kulit dan dagingnya yang dipakai.

Selain menggunakan “ranti” khusus, sambal tempong juga menggunakan trasi spesial. Jika umumnya trasi berbahan udang kering, atau ebio. Namun penjual nasi tempong di Banyuwangi akan memesan secara khusus terasi berbahan baku “Teri Nasi”. Teri warna putih yang sudah dikeringkan ini, ternyata mempunyai kelejatan tersendiri.

Kemudian bahan lainnya, seperti cabe rawit, cabe merah, bawang merah dan bawang putih sama dengan sambal pada umumnya di daerah lain. Namun meski pembelinya banyak, penjual “Sego Tempong” akan meracik sambal dulu sesuai pemesan yang datang. Kecuali terasi dan bawang putih digoreng dulu, kemudian cabe rawit, cabe merah dan ranti yang sudah digilangkan bijinya, dilumatkan dalam cobek dari batu. Selain diberi garam dan gula sedikit tentunya, ada juga yang diberi jeruk. Nah, setelah halus lumatannya, jadilah sambal tempong siap saji yang segarr dan “pewedes…!!!

Sambal ini disajikan dengan nasi panas “kebul-kebul”, dengan lauk standar tahu dan tempe goreng, Namun pembelio juga bisa menambah dengan lauk lele goreng, ayam goreng, pindang goreng atau ikan lautr segar goreng. Kemudian lalapannya dalam bentuk matang semua, yaitu sayuran (Sawi Bhs.Jawa), manisah (gondes bhs. Jawa), terong welut, kubis, serta aneka sayuran lainnya yang musim saat itu. Bila ada yang tidak suka, tinggal bilang kepada penjualnya. Anda tidak mau salah satu sayur yang ada…

Nah, harganya hanya Rp. 6000 porsi, dengan satu lauk pilihan. Apabila lauk pilihan lebih dari satu, tentu hargaya juga ikut tambah.

Setelah makan pewedes, bagi yang merokok bisa menutup kenikmatan dengan sedotan rokok sesuai selera. Namun bagi yang tidak merekok, cukup pesen minuman es teh. Bisa juga air es, agar bertambah sewegerrr…..

Nah penasaran dengan “Sego Tempong”? Atau Anda ingin merasakan “Tamparan” sego tempong, datanglah ke Banyuwangi. Setiap sore hingga tengah malam, di sudut-sudut kota Banyuwangi banyak bertebaran penjual Nasi Tempong. Selamat mencoba dan menikmati…..

sego-tempong



Sumber

Rujak Soto Makanan Khas Banyuwangi


LareOsing, Rujak Soto, siapa sih orang banyuwangi yang belum pernah mendengar nama ini ? atau bahkan
belum pernah sama sekali mencicipi ? Rujak soto merupakan salah satu dari sebagian banyak makanan khas
Kabupaten Banyuwangi.
Bahan dari rujak soto :
Untuk bikin rujak perlu bahan antara lain :
Kacang tanah yang biasanya di lengkap dengan pisang kripik.
Gula merah
Cabe secukupnya
Garam secukupnya
Sayurannya ada :
Tempe
Tahu
Timun
Dan sayur” ijo yang lain kangkung, toge / cambah, kacang panjang, labu potong kecil2,
genjer, kubis dll.
Untuk sotonya seperti biasa bumbu soto atau pakek kaldu ayam
lauk soto :
1. babad
2. tetelan
3. ayam ( kepala / ceker )
Rujak Soto
Bahan:
1 bh tahu putih besar, goreng, potong-potong
150 gr tempe, goreng, potong-potong
75 gr kangkung, potong-potong, rebus
100 gr taoge, rebus
250 gr cingur sapi, rebus, potong-potong
1 bh mentimun, potong-potong
4 piring nasi atau 5 bh lontong (potong-potong)
Bumbu Rujak (haluskan):
3 bh cabai merah
4 bh cabai rawit
1 bh pisang batu, potong-potong
75 gr kacang tanah goreng
75 gr gula merah
2 sdt garam
3 sdm petis
5 sdm air asam jawa
Kuah Soto:
150 gr babat rebus, potong-potong
150 gr usus sapi rebus, potong-potong
200 gr tetelan sapi, potong-potong
1500 ml air
2 btg serai, memarkan
3 lbr daun jeruk, potong-potong
1 sdm garam
1 sdt gula pasir
2 btg daun bawang, potong-potong
3 sdm minyak untuk menumis
Haluskan:
8 bh bawang merah
4 siung bawang putih
3 cm kunyit bakar
4 bh kemiri, sangrai
2 cm jahe
1 sdt lada
1 sdt ketumbar
Cara Membuat:
1. Buat kuah soto: rebus tetelan sampai lunak, angkat. Ukur kaldunya 1000 ml.
2. Tumis bumbu halus, serai, dan daun jeruk sampai matang. Tuang ke dalam kaldu. Tambahkan babat, usus, dan
tetelan. Rebus sampai matang, bumbui gula dan garam, taburi irisan daun bawang.
3. Aduk bumbu rujak, tambahkan tahu, tempe, kangkung, taoge, cingur, mentimun. Aduk rata.
4. Sajikan nasi panas atau lontong, tambahkan bumbu rujak, siram dengan kuah soto
5. Beri bawang goreng secukupnya, kecap secukupnya dan nikmati dengan tambahan kerupuk renyah.
Selamat membuat Rujak SOto dan Selamat Berburu rujak Soto di sudut-sudut kota Kabupaten Banyuwangi.

Pantai Plengkung


Plengkung atau yang dikenal oleh wisatawan mancanegara dengan nama G-Land merupakan surga bagi para peselancar profesional dari dalam negeri ataupun mancanegara. Huruf G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki ombak yang besar. G-Land dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang masih alami. Bulan Mei sampai Oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. G-Land menawarkan olahraga surfing yang paling digemari oleh para pesurfer dan disarankan hanya untuk para pesurfer profesional karena ombaknya yang dapat mencapai 5 meter.
Kebanyakan dari para peselancar berangkat dari Bali, melalui Banyuwangi langsung ke G-Land atau ke Grajagan, kemudian menyewa boat ke pantai Plengkung. Untuk menginap tersedia Cottage dan Jungle camp dekat pantai bagi para pengunjung.

Bagaimana Mencapai Pantai Plengkung atau G-Land?
Pantai Plengkung terletak di pantai selatan Banyuwangi, ujung timur Jawa Timur. Para pengunjung dapat mencapai Pantai ini dengan dua jalur; darat maupun darat dan laut.
Lewat Darat : Banyuwangi-Kalipahit (59 Km) naik Bus, Kalipahit-Pasaranyar (3 Km) dengan ojek atau menyewa mobil, Pasaranyar Trianggulasi-Pancur (15 Km), Pancur-Plengkung (9 Km) dengan Mobil Khusus.
Lewat Darat-Laut : Banyuwangi-Benculuk (35 Km) naik Bus atau kendaraan umum lainnya, Benculuk-Grajagan (18 Km) dan Grajagan Plengkung dengan Speet Boat.

Kedua jalur menuju Plengkung tersebut semuanya tidak ada masalah. Jika pengunjung memilih melalui Grajagan penginapan di pantai Grajagan tersedia, dan para pengunjung bisa menikmati keindahan pantai Grajagan sebelum berangkat ke pantai Plengkung.




Kawah Ijen

Kawah ijen yang berada di ketinggian 2.386m dpl, merupakan kawah danau terbesar dipulau jawa, kawah berbentuk ellips dengan ukuran kurang lebih 960 x 600 m dengan ketinggian permukaan air danau kurang lebih 2140 m dpl dengan kedalaman danau kurang lebih 200 m serta merupakan danau terasam didunia dengan ph 0,5. Kawah belerang berada dalam sulfatara yang dalam. Kedalamannya 200 m dan mengandung kira-kira 36 juta meter kubik air asam beruap, diselimuti kabut berbau belerang yang berputar-putar diatasnya. Didalam kawah, berbagai warna dan ukuran batu belerang dapat ditemukan. Sungguh, kawah ijen merupakan taman batu belerang yang indah.

Pemandangan menjadi sangat unik ketika dari celah celah tebing curam terlihat begitu banyak para penambang belerang yang naik turun di sela-sela lereng kawah. Sekitar kurang lebih 100 orang membawa bebatuan kekuning-kuningan yang diatas pundaknya terlentang sebatang bambu dengan sejenis keranjang bambu yang dipenuhi puluhan kilogram belerang didalamnya yang tergantung disisi kanan kirinya. Beban yang dipikul memiliki berat yang beragam mulai 80 kg sampai dengan 120 Kg. tiap orang mondar-mandir, menggali belerang, naik turun, menuruni lereng beberapa kilometer sebelum beban dijual dipelelangan, dalam sehari dapat terkumpul belerang berkisar 6 sampai 7 ton. Itulah pemandangan alami kawah ijen kesehariannya.

Seperti halnya pemandangan di puncak gunung – gunung lainnya, pengunjung dapat melihat pemandangan yang menghampar luas kearah selat bali, serta pemandangan gunung lain yang ada di sekitar gunung ijen. Gunung ijen memiliki tetangga lain yaitu Gunung Merapi, Gunung Widodaren, Gunung Ranti dan Gunung Papak. Yang dapat dilihat dari pos paltuding.

ketika mendaki pengunjung akan melewati Pondok Bunder
yang dibangun pada masa pemerintahan hindia belanda, berbentuk setengah lingkaran sehingga lebih dikenal dengan pondok bunder ( bentuknya lingkaran ) fungsi utamanya untuk mengukur curah hujan. Lingkungannya sejuk dengan pemandangan Kaldera Pegunungan ijen raksasa ( G. Raung, G. Rantai, G. Suket, dan G. Papak ), disini juga merupakan bird waching area.

Bunga edelweis juga dapat ditemui di sepanjang bulan juli sampai september, dibulan-bulan ini bunga abadi ini mulai tumbuh dan bersemi..

Bagaimana Akomnodasi yang disediakan?
Bagi pengunjung yang tidak membawa perbekalan, tidak perlu kuatir, sebab di Paltuding yaitu pos terakhir sebelum pengunjung melakukan pendakian ke puncak telah tersedia beberapa warung makanan dan juga penginapan serta terdapat pula camping ground. Disepanjang pendakian ke puncak juga terdapat warung sederhana yang menjual makanan.

Bagaimana menuju ke kawah ijen?
Jalan akses dari Banyuwangi ke gunung ijen relatif sudah sangat baik untuk dilewati berbagai jenis kendaraan. Bahkan kendaraan roda 2 dapat dengan mudah melewatinya. Hal itu karena jalan disepanjang pintu masuk yang berada di desa jambu ke kawasan wisata gunung ijen sampai dengan pos terakhir di Paltuding sudah beraspal.

Untuk mencapai Gunung Ijen dari Banyuwangi, bisa naik angkot trayek Banyuwangi - Licin – Jambu yang berjarak kurang lebih 45 km. Dari Jambu perjalanan dilanjutkan menuju Paltuding, dengan ojek atau sewa mobil. Paltuding merupakan Pintu gerbang utama ke Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen, yang juga merupakan Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).

Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 3 km. Lintasan awal sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajat. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Setelah beritirahat di Pos Bunder ( pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran) jalur selanjutnya relatif agak landai. Selain itu wisatawan/pendaki di suguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu yang lumayan terjal sejauh 250 meter.



Gandrung Banyuwangi


Gandrung Banyuwangi berasal dari kata "gandrung", yang berarti 'tergila-gila' atau 'cinta habis-habisan' dalam bahasa Jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Sejarah

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Tata Busana Penari

Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.

Bagian Tubuh

Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala

Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Bagian Bawah

Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.

Lain-lain

Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

Musik Pengiring

Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.
Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

Tahapan-Tahapan Pertunjukan

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:
  • jejer
  • maju atau ngibing
  • seblang subuh

Jejer

Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju

Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.
Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh

Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

Perkembangan terakhir

Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.

Minakjinggo dan Keunikan Teater Janger


Teater Janger atau kadang disebut Damarwulan atau Jinggoan, merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak dan ludruk. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta mempunyai lakon atau cerita yang diambil dari kisah-kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu juga sama-sama dilengkapi pentas, sound system, layar/ tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak. Serta pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

Sejarah

Pada abad ke-19, di Banyuwangi hidup suatu jenis teater rakyat yang disebut Ande-Ande Lumut karena lakon yang dimainkan adalah lakon Andhe-Andhe Lumut. Dan dari sumber cerita dari mulut ke mulut, pelopor lahirnya Janger ini adalah Mbah Darji, asal Dukuh Klembon, Singonegaran, Banyuwangi kota. Mbah Darji ini adalah seorang pedagang sapi yang sering mondar-mandir Banyuwangi-Bali, dan dari situ dia tertarik dengan kesenian teater Arja dan dia pun berkenalan dengan seniman musik bernama Singobali yang tinggal di Penganjuran, dari situlah kemudian terjadi pemaduan antara teater Ande-Ande Lumut dengan unsure tari dan gamelan Bali, sehingga lahirlah apa yang disebut Damarwulan Klembon atau Janger Klembon.
Semenjak itu, mulai lahir grup-grup Damarwulan di seantero Banyuwangi. Mereka bukan hanya memberikan hiburan, namun juga menyisipkan pesan-pesan perjuangan untuk melawan penjajah dengan kedok seni. Di masa revolusi, kerap kali para pejuang kemerdekaan menyamar sebagai seniman Janger untuk mengelabui Belanda dan para mata-matanya.
Menurut Dasoeki Nur, seorang pelaku kesenian Janger, teater ini juga sempat berkembang hingga melampaui wilayah Banyuwangi sendiri. Bahkan menurutnya lagi, pada tahun 1950an pernah berdiri dua kelompok Janger yang berada di wilayah Samaan, dan Klojen, kota Malang.

Paradoks Karakter Minakjinggo

Dalam wacana masyarakat Banyuwangi, karakter Minakjinggo digambarkan sangat berlawanan dengan apa yang diyakini masyarakat Jawa pada umumnya (berdasarkan cerita-cerita seperti Serat Damarwulan). Digambarkan Minakjinggo merupakan sosok yang bertemperamen buruk, kejam dan sewenang-wenang. Disamping buruk rupa, pincang, suka makan daun sirih dan lancing meminang Sri Ratu Kencanawungu (Ratu Majapahit).
Menurut pandangan masyarakat Banyuwangi, Minakjinggo digambarkan sebagai sosok yang rupawan, digandrungi banyak wanita, arif, bijaksana dan pengayom rakyatnya. Mengapa Minakjinggo memberontak? Menurut para sesepuh Banyuwangi itu lebih dikarenakan dia menagih janji Kencana Wungu untuk menjadikannya suami, setelah mampu mengalahkan Kebo Marcuet, dan dimenangkan oleh Minakjinggo. Wajah Minakjinggo menjadi rusak karena terluka pada saat bertarung dengan Kebo Marcuet, dan demi melihat wajah Minakjinggo yang rusak, maka Kencana Wungu menolak dan akhirnya Minakjinggo memberontak.
Pandangan inilah yang berupaya diluruskan, mengingat citra Minakjinggo yang buruk dalam catatan legenda Serat Damarulan. Keabsahan Serat Damarwulan dengan legenda-legendanyapun masih simpang siur, dan data masih kurang lengkap.

Keunikan Teater Janger

Teater Janger Banyuwangi ini merupakan salah satu kesenian hibrida, dimana unsure Jawa dan Bali bertemu jadi satu didalamnya. Gamelan, kostum dan gerak tarinya mengambil budaya Bali, namun lakon cerita dan bahasa justru mengambil dari budaya Jawa. Bahasa yang dipergunakan dalam kesenian ini adalah bahasa Jawa Tengahan yang merupakan bahasa teater ketoprak. Namun pada saat lawakan, digunakan bahasa Using sebagai bahasa pengantar. Lakon ceritanya pun justru diambil dari Serat Damarwulan yang dianggap penghinaan terhadap masyarakat Banyuwangi, yang anehnya malah berkembang subur.

Lakon atau Cerita

Lakon atau cerita yang akan dipentaskan, disesuaikan dengan permintaan penanggap atau scenario kelompok itu sendiri. Lakon yang paling banyak dipentaskan antara lain, Cinde Laras, Minakjinggo Mati, Damarulan Ngenger, Damarulan Ngarit, dan lain sebagainya. Selain dari cerita panji, lakon juga diambil dari legenda rakyat setempat seperti Sri Tanjung dan kadang cerita-cerita bernuansa Islam.

Busana

Busana pemain disesuaikan dengan peran mereka. Pada peran prajurit, raja, panglima dan tokoh kalangan atas biasanya menggunakan busana khas Bali yang biasa dipakai dalam pertunjukan Arja. Sedangkan kaum wanita istana memakai busana Bali yang dimodifikasi, yakni kuluk yang dihias bunga kamboja dengan manik-manik, ter atau penutup dada, dan biasanya memakai kain jarit berwarna mengkilap. Yang unik, peran rakyat jelata justru memakai busana khas Jawa.

Tari pengiring

Tari-tarian yang menjadi pengiring dalam pertunjukan Janger ini bervariasi. Bisa dibuka dengan tari-tarian khas Bali, seperti pendet, legong, baris , atau tari-tarian khas Banyuwangi seperti Jejer Gandrung, Jaran Goyang, Seblang Lokento dan lain sebagainya.

Perkembangan saat ini

Diperkirakan ada sekitar 60an kelompok Janger yang masih eksis saat ini. Meski kondisinya memang senin-kamis, sebagai dampak modernisasi yang makin marak. Kelompok Janger Banyuwangi yang cukup popular di wilayah tersebut antara lain Temenggung Budoyo dari kota Banyuwangi, Madyo Utomo dari desa Bubuk, Kec. Rogojampi, dan Patoman dari desa Blimbingsari, Kec. Rogojampi.


Kebesaran Blambangan

Kebesaran Blambangan hanya tinggal cerita. Meski banyak ditemukan situs dan bukti sejarah, riwayat kerajaan ini tetap misterius. Situs dan petilasan Blambangan banyak ditemukan di Kecamatan Muncar,Banyuwangi. Yang masih terlihat jelas bentuknya adalah situs umpak songo dan setinggil di Desa Tembokrejo,Muncar.
Umpak songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak artinya tangga,songo berarti sembilan. Situs ini ditemukan pertama kali sekitar tahun 1916 oleh Mbah Nadi Gde,seorang warga dari Bantul, Yogyakarta.
Pertama ditemukan kondisinya sudah tertimbun tanah dan hutan belantara. Begitu digali, ternyata mirip sebuah candi. Diyakini,umpak songo dahulunya adalah balai pertemuan bagi raja Blambangan bersama bawahannya. Tahun 1938, seorang Raja dari Solo,Jawa Tengah, Mangku Bumi IX mengunjungi tempat itu. Kemudian, tempat ini diberi nama umpak songo. Mangku Bum sempat mengisahkan bahwa lokasi itu adalah bekas peninggalan kerajaan Blambangan dengan rajanya Minak Jinggo.
Di sekitar umpak songo banyak ditemukan saksi sejarah kebesaran Blambangan. Ada gumuk sepur, bukit yang memanjang. Konon ini adalah benteng raksasa kerajaan Blambangan. Akibat kurangnya pemahaman masyarakat, gumuk sepur dihancurkan dan digunakan lahan pertanian.
Tak jauh dari umpak songo, ada umpak lima. Konon, tempat ini adalah ruangan semadi raja-raja Blambangan. Sayangnya, lokasi ini sudah musnah. Warga meratakannya dengan tanah, lalu dibangun sebuah mushola. Warga yang tinggal di sekitar situs umpak songo adalah keluarga besar. Jumlahnya 20 KK,mereka adalah keturunan Mbah Nadi Gde. Saat ini hanya tinggal umpak songo yang mash terlihat bentuknya. Itu pun kondisinya sudah memprihatinkan. Sejumlah batu dan benda-benda sejarah lainnya sudah hilang.
Meski sudah masuk cagar budaya, perhatian bagi umpak songo masih cukup minim. Baru tahun ini, Pemkab Banyuwangi membuat tembok keliling di sekitar lokasi. Umpak songo juga masih berstatus lahan milik pribadi. “ Ini adalah warisan nenek moyang, sesuai petuahnya, kami tidak boleh menjual,” kata Mbah Soimin (70), juru kunci umpak songo yang juga pemilik situs tersebut.
Bukti adanya bekas kerajaan cukup dirasakan warga di sekitar umpak songo. Zaman dahuu,banyak warga menemukan benda-benda sejarah ketika menggali tanah di sekitar lokasi. Seperti genta kuningan dan berbagai perabot terbuat dari keramik China. Ada juga pernah menemukan arca dan berbagai benda bertuah lainnya. “ Tempat ini (sekitar umpak songo-red) adalah pusat kerajaan,” sambung Mbah Soimin. Satu lagi bukti sejarah yang masih terlihat adalah pohon pakis raksasa. Pohon ini tumbuh tepat di depan situs umpak songo. Umur pohon ini diyakini sudah ratusan tahun.
Meski berstatus milik pribadi, situs umpak songo tetap dibuka untuk umum. Kawasan ini menjadi jujukan warga untuk bersemadi sejak zaman dahulu. Biasanya mereka datang pada malam Sabtu pahing. Kegiatannya, menggelar ritual tirakatan atau semadi semalam suntuk. Mereka yang datang kebanyakan meminta berkah atau ingin mendapatkan ilmu kejawen.
Puncak keramaian umpak songo adalah hari raya Kuningan. Umat Hindu Bali selalu antre bersembahyang di tempat ini. Hari biasa pun sejumlah pemedek dari Bali juga banyak mengalir. Situs umpak songo hanya berjarak satu kilometer arah timur pura Agung Blambangan,Banyuwangi. Pura terbesar di Banyuwangi ini pun erat kaitannya dengan kerajaan Blambangan. Saat dibangun sekitar tahun 1960-an, ditemukan sumur gaib di sekitar pura. Diyakini,sumur ini adalah bekas peninggalan Blambangan.
Selain umpak songo, ada situs Setinggil di Dusun Kalimati,Muncar,sekitar empat kilometer arah timur umpak songo. Lokasinya persis menghadap pantai. Setinggil berasal dari dua kata, siti artinya tanah dan inggil berarti tinggi. Setinggil diartikan tanah yang menjulang tinggi. Situs ini diyakini bekas menara pengintai kerajaan Blambangan. Lokasinya yang berdekatan laut dengan mudah mengawasi selat Bali yang digunakan berlayar kapal-kapal perdagangan. Sampai kini, pelabuhan Muncar menjadi pelabuhan pendaratan terbesar pendaratan ikan di Indonesia. Konon, zaman dahulu pelabuhan ini sudah ramai dan terkenal seperti sekarang ini.
Kondisi Setinggil juga memprihatinkan. Di sekitar lokasi sudah diserbu perumahan warga yang penuh sesak. Yang tersisa hanya tanah seluas 200m2yang digunakan kantor Kepala Dusun Kalimati. Di dekatnya dibangun sebuah balai kecil. Di tempat ini terdapat sebongkah batu besar. Batu ini diyakini bekas tempat duduk raja Blambangan,Minak Jinggo ketika melakukan pengintaian kapal-kapal di selat Bali yang akan mendarat.
Setinggil juga dianggap sakral. Pada hari tertentu situs ini digunakan semadi para pengikut aliran kejawen. Saat hari raya Kuningan, umat Hindu Bali juga banyak yang sembahyang di tempat ini. “ Kita tetap terbuka untuk umum. Siapa pun boleh masuk,” kata Ahmad Slamet (60),juru kunci Setinggil yang juga Kepala Dusun Kalimati.
Kesakralan Setinggil memang cukup terasa. Ketika TOKOH mengabadikan gambar balai Setinggil, sempat terekam kamera sebuah bayangan putih. Bayangan mirip kepala itu menggantung di dekat langit-langit balai. Kesakralan ini juga dibenarkan juru kunci dan warga setempat. Mereka yang menjadi juru kunci tidak boleh sembarangan orang. Hanya Kepala Dusun yang diperbolehkan mengurus dan merawat lokasi tersebut. Kawasan ini juga menjadi aset desa Tembokrejo.
Di sekitar Setinggil banyak juga ditemukan bekas peninggalan sejarah Blambangan. Seperti gumuk Klinting. Di tempat ini warga banyak menemukan genta terbuat dari tanah liat. Ada juga watu kereta yang berada di tengah laut. Batu berbentuk mirip kereta ini diyakini bekas tempat latihan perang tentara Blambangan. Lokasinya sekitar 4 kilometer dari bibir pantai. Lokasi ini juga dikenal cukup sakral. Sayang,lokasinya berada di tengah laut. Sehingga menyulitkan warga yang akan mengunjungi. Kita harus menggunakan perahu sekitar 20 menit untuk mencapai tempat ini.
Situs lainnya adalah Bale Kambang di Desa Blambangan,Muncar. Konon, tempat ini adalah tempat pertemuan rahasia raja Blambangan. Kini, bale kambang sudah tertimbun oleh pepohonan. Bentuknya menyerupai bukit yang menjulang tinggi. Di sekitarnya terlihat jelas tanah mendatar mirip bekas kolam. Menilik bahasanya, bale kambang diartikan sebagai balai yang dibangun di atas air. Ada juga yang menyebut balai ini adalah kaputren permaisuri raja Blambangan.
Di sekitar bale kambang, terdapat sejumlah bukti sejarah yang menguatkan adanya bekas kerajaan besar. Tak jauh dari bale, ada sebuah tanah tinggi yang memanjang. Bentuknya mirip sebuah bukit berbaris. Dipercaya, ini adalah tembok istana yang mengelilingi bale kambang. Tempat ini terbuat dari tumpukan batu cadas berukuran besar. Zaman dahulu kawasan ini banyak ditemukan tembok-tembok besar yang menjulang tinggi. Selanjutnya daerah ini dikenal dengan nama Tembokrejo.
Selain tembok raksasa, banyak lagi situs di sekitar bale kambang. Bentuknya menyerupai bukit dengan ditumpuki batu-batu alam. Sayangnya, tak satu pun ada sumber kuat yang menyebutkan nama-nama tempat itu. Kondisinya juga tak terawat. Disekitar tempat ini hanyalah hamparan sawah yang luas.
Kendati tidak ada catatan sejarah, kebesaran Blambangan tetap diyakini masyarakat Jawa di sekitar lokasi. Ini terlihat dari banyaknya nama-nama Desa yang erat hubungannya dengan zaman keemasan Blambangan. Tak jauh dari situs bale kambang ada desa Blambangan. Di sekitar situs umpak songo ada desa Tembokrejo. Ada pula daerah Palu kuning yang diyakini bekas hilangnya senjata gada besi kuning milik Minak Jinggo. Juga ada bukit putri, bukit jadah dan sejumlah situs lain yang tidak terawat. Bagi masyarakat Jawa, kebesaran Minak Jinggo tetap dikenang dan diyakini pahlawan besar zaman Blambangan.
Ditulis oleh Budi wiryanto, Wartawan Bali post yang ngepos di Banyuwangi.


Batik “Gajah Uling”, Khas Banyuwangi


SELAMA ini, orang mengidentikkan batik dengan Kota Solo dan Pekalongan di Jawa Tengah, maupun Kota Yogyakarta. Walaupun, usaha batik di Pulau Jawa, sebenarnya tak hanya berkisar di situ-situ saja.
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, adalah salah satu wilayah produsen batik, yang jarang ditengok orang. Padahal, kekhasan batik Banyuwangi dengan ciri gajah uling-nya, tak dapat dikesampingkan begitu saja.
Gajah uling memang bentuk dasar batik Banyuwangi. Pada kain batik produksi kota ini, selalu ada gambar gajah uling. Dari asal katanya, kata itu merupakan gabungan kata dari gajah, dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut).
Ciri itu berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk
uling. Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa).
“Itu konsep dasar gajah uling. Kalau ada batik dengan unsur-unsur itu, dan latar belakangnya putih, berarti itu batik khas Banyuwangi,” kata Pemimpin Kelompok Pengrajin Batik “Sayu Wiwit”, Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi, Soedjojo Dulhadji.
Dari arti katanya, gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti mahabesar. Sedangkan uling berarti eling, atau ingat. “Jadi, berdasar telaahan saya pribadi, gajah uling ini mengajak kita untuk selalu ingat kepada yang mahabesar, kepada Tuhan,” katanya.
Toh, sampai sekarang belum ada kesepakatan final mengenai dasar filosofi gajah uling. Sehingga, masing-masing pengusaha batik memiliki keyakinan sendiri-sendiri tentang keberadaan trade mark batik Banyuwangi ini.
Soedjojo, bisa dikelompokkan sebagai penganut aliran konvensional yang masih setia pada pakem gajah uling. Tak heran, kain batik produksi Sayu Wiwit, selain menampakkan wajah gajah uling dengan kentara, juga banyak yang berlatar belakang putih. Pasalnya, ia berpendapat batik khas Banyuwangi memang seharusnya berwarna dasar putih.
Mempekerjakan 25-30 tenaga kerja, Sayu Wiwit selama ini melayani pasaran batik di Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Pasar andalannya, baju seragam siswa dan karyawan di lingkungan Banyuwangi, yang digerakkan atas rekomendasi Bupati Banyuwangi.
***
Lain halnya dengan Suyadi, pemilik Sanggar Batik Virdes di Desa Simbar, Kecamatan Cluring. Bagi Suyadi, pakem gajah uling bisa dikembangkan konsepnya dengan sedemikian rupa, mengikuti selera pasar. “Prinsip saya, pembeli adalah bos. Sehingga bagaimana kata konsumen, saya akan ikuti. Yang penting bentuk gajah uling tidak ditinggalkan, masih tetap ada,” jelasnya.
Tak heran, corak batik Virdes terlihat lebih dinamis, karena lebih berani mengacak pakem gajah uling. Akibatnya, wajah trade mark khas Banyuwangi itu terselip di antara keramaian warna dan gambar lainnya.
Suyadi tak terlalu pusing dengan omzet produksi batik yang banyak dari segi kuantitatif. Untuk setiap corak baru yang dibuatnya-misalnya corak baru batik sutra-ia hanya membuat sepanjang enam meter saja, sebagai sampel.
Sampel itu kemudian dipajang di galeri mininya di Desa Simbar, atau dipamerkan di stan-stan pameran. Biasanya, tak lama setelah motif baru itu dipasarkan, sudah ada pembeli yang memesan, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak, misalnya mencapai 100 lebih.
“Sesudah ada pesanan dari konsumen itulah, saya memproduksi batik motif itu sesuai jumlah yang dipesan,” katanya. Dengan corak baru yang sering berganti dan jenis kain yang juga disesuaikan keinginan pembeli, ia berani mematok harga tinggi untuk batik produksinya.
Harga batik tulis dan batik cap di Virdes, berkisar antara Rp 14.000 per meter, sampai Rp 1 juta per meter. Harga itu bisa dinilai wajar, karena konsumen langganan batik Virdes adalah kalangan pejabat, pengusaha, dan pelanggan mancanegara.
Sejumlah pasar yang telah dirambahnya, antara lain Palembang, Jambi, sejumlah kota di Kalimantan, dan hampir semua kota di Jawa Timur. Selain itu, Suyadi juga sering memasok batik gajah uling ke Italia, Perancis, Inggris, dan Australia.

Premium Download

RS-MU-MS-ES-MV-MP-HotFile-NetLoad.in-Uploading.com

Blog SpeedTes

Your domain(s): Enter each address on a new line (Maximum 3)
 
(Sample: http://cldr-electr.blogspot.com/)